Archive | April 2015

Biopori, Lubang Hitam Penyelamat Bumi

Isu yang bermanfaat yang harus terus disampaikan kepada masyarakat adalah berhubungan dengan Lubang Resapan Biopori (LRB). Kondisi bumi yang kian memprihatinkan karena resapan dan buruknya drainase kota membuat banyak pihak khawatir. Belum lagi masalah produksi sampah yang terus meniningkat. Maka tak heran jika banjir dan tanah longsor menjadi ancaman yang nyata.

Lubang Resapan Biopori (LRB) merupakan upaya untuk menanggulangi hal-hal tersebut di atas. Dengan kata lain, teknologi tepat guna ini berfungsi sebagai sumur resapan. Tidak hanya di pekarangan rumah, lubang ini dapat dibuat dimana saja. Termasuk dalam hal ini di taman sekolah. Lubang Resapan Biopori telah ada di SMP Negeri 2 Banjarnegara kurang lebih selama 2 tahun berjalan. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran lingkungan dan pentingnya menjaga kelestarian air dan tanaman.

Terhitung di SMP Negeri 2 Banjarnegara dapat ditemukan 6 lubang resapan biopori yang telah beroperasi. Meski pun ketika hujan yang cukup besar terjadi, keenam lubang resapan tersebut belum dapat berfungsi maksimal karena besarnya volume air hujan yang mengguyur Banjarnegara belakangan ini, namun hal ini cukup mengurangi efek negatif dari berlebihannya air hujan yang jatuh ke tanah. Terbukti di area hijau dan sekitar lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara ketika hujan melanda genangan-genangan air tidak begitu banyak, kontur tanah di lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara juga cenderung relatif lebih lembab dibandingkan daerah lain, karena cadangan resapan air tanah yang berasal dari hujan masuk dan meresap dengan baik ke dalam tanah. Maka tidak mengherankan jika lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara terlihat sejuk dan hijau meski pada musim kemarau.

Kemudian, bagaimana cara membuat LRB ini? Dengan mudah setiap orang mampu membuat Lubang Resapan Biopori dengan manual. Caranya, lubangi tanah pekarangan sedalam 100 sentimeter dan diameter 10 sampai dengan 30 sentimeter. Jika permukaan tanahnya dangkal, atur agar lubang biopori  tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah.  Selanjutnya, isi lubang tersebut dengan sampah organik—misalnya sisa makanan, daun-daunan, atau sisa sayur. Dengan begitu cacing tanah akan hidup dalam lubang tersebut. Nantinya cacing inilah yang akan membentuk pori-pori tanah sebagai media resapan air, dalam hal ini air hujan. Rongga tanah ini akan mempercepat resapan air ke dalam tanah.

Di atas lubang ini, tambahkan lingkaran beton berukuran kecil, atau dapat juga menggunakan pipa PVC dengan ukuran cukup besar beserta tutup pipa yang memiliki lubang-lubang udara, selain itu dapat juga menggunakan yang serupa dengan con block segi enam. Kemudian, untuk permukaan paling atas, pasanglah teralis, atau tutup pipa besar berlubang tadi. Alat terakhir berfungsi sebagai saringan jika hujan turun  membawa sampah dan menghalangi meresapnya air ke dalam tanah.

Terbukti bukan, bahwa lubang resapan ini mudah dibuat dan tidak membutuhkan biaya besar? Apalagi dari tindakan sederhana ini kita bisa mendapatkan manfaat yang begitu besar—diantaranya, efektif mengurangi genangan air di pekarangan rumah/sekolah/taman.   Harapannya kedepan Lubang Resapan Biopori di lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara ini dapat ditambah sekaligus sebagai sarana sosialisasi betapa pentingnya menjaga kelestarian alam dari hal terkecil berupa Lubang Resapan Biopori, si lubang penyelamat Bumi. (Al Khansa)

Sekolahnya Baradek dan Barata…

Pagi baru saja menjelang, ketika waktu menunjukkan pukul 06.30 di depan gerbang sekolah yang kokoh telah berdiri dua-tiga Bapak-Ibu guru tersenyum dengan khasnya bersiap menyambut kedatangan putra-putri terbaiknya yang bersemangat untuk mengenyam ilmu di sini, ketika waktu bergulir-mereka satu-satu turun dari kendaraan umum yang membawa mereka ke sekolah dari berbagai penjuru baik yang jauh maupun yang dekat, mereka memiliki tekad yang sama yaitu menuntut ilmu dengan baik di sini, berjalan perlahan dan kemudian berbaris, tersenyum, bersalaman, sejenak bel tanda masuk berbunyi, tak lama kemudian terdengar gema ayat suci yang menggetarkan, selanjutnya terlihat  kesemangatan langkah-langkah kaki bapak-ibu guru untuk menebar ilmu menuju kelas-kelas, keceriaan dan kesemangatan dalam proses pembelajaran terasa memenuhi hawa sekolah ini, pun tak jarang sayup terdengar nyanyian dari para siswa di kelas seni, atau senyapnya kelas yang tengah memperhatikan dengan seksama penjelasan Bapak atau Ibu guru  yang tengah menerangkan, kemudian berselang dengan berjalannya waktu dan ketika pintu-pintu kelas terbuka, lantas anak-anak berlarian menuju kantin kemudian memilih dan memilah mana yang ingin dinikmati dan selanjutnya berbaris rapi membayar serta mengambil kembalian sendiri di kantin kejujuran, dentingan bel berbunyi dan anak-anak kembali memasuki kelasnya, dengan hikmat kembali ke dalam kelasnya masing-masing melanjutkan pembelajaran hingga dentingan bel pulang berbunyi.

Begitulah kira-kira aktivitas keseharian yang dilalui oleh anak-anak di sekolah ini. Sekolah siapa ini? ini adalah sekolahnya para Baradek dan Barata siswa-siswi terbaik yang dititipkan oleh orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama, SMP Negeri 2 Banjarnegara. Apakah itu Baradek dan Barata? Ini adalah salah satu keistimewaan dari sekolah ini,  dan di Banjanegara hal tersebut hanya dapat ditemui di sekolah ini. Sekolah yang terkenal akan kedisiplinannya ini memiliki sebutan yang unik bagi putra-putri terbaik yang belajar di sini.  Baradek adalah sebutan bagi siswa putra SMP Negeri 2 Banjarnegara yang memiliki ciri berambut cepak model bros, atau dengan kata lain Baradek adalah akronim dari Barisan Rambut Pendek. Sedangkan Barata adalah sebutan bagi siswi SMP Negeri 2 Banjarnegara yang dari jaman dulu juga mempunyai ciri khas tiada duanya, yaitu berkucir dua dan berpita, pita biru untuk hari Senin hingga Kamis, dan pita putih untuk hari Jumat dan Sabtu. Maka Barata ini adalah akronim dari Barisan Rambut Berpita.

Bukan tanpa sebab aturan ini berlaku tegas bagi siswa-siswi yang memasuki sekolah ini. Dua hal ini adalah salah satu upaya untuk mendisiplinkan anak dan membuat anak fokus pada proses belajar mengajar, bukan pada dandanan apa yang akan mereka gunakan pada hari itu, atau model rambut apa yang tengah in  saat itu. Selain model rambut, sekolah ini juga mewajibkan siswa-siswinya menggunakan sepatu dan kaos kaki yang sama, pun batasan cara memakainya. Semua sama, pun memiliki tujuan yang sama. Itulah kiranya gambaran yang ingin tercipta dari sekolah ini, tidak membedakan dari keluarga mana, berasal dari daerah mana, atau pun kondisi ekonomi seperti apa. Semua yang masuk ke dalam sekolah ini maka akan diperlakukan sama dan mematuhi semua aturan dengan tertib tanpa terkecuali.

Nah dengan aktivitas keseharian para baradek dan barata tersebut apakah mereka merasa bosan? Seorang-dua orang anak yang kemudian disodorkan pertanyaan tersebut menjawab dengan senyum malu-malu dan kemudian menggangguk, tentu hal tersebut merupakan bentuk kejujuran yang perlu diapresiasi. Kemudian yang lain menjawab: “tidak!” dengan tegasnya-mereka yang berkata tidak beralasan bahwa dengan mereka berangkat sekolah, mereka  bisa bertemu teman-teman dan belajar bersama, begitu pula bagi mereka yang memiliki bakat dibidang non-akademik, untuk mereka SMP Negeri 2 Banjarnegara adalah sekolah yang tepat untuk mengembangkan bakat mereka, di sekolah ini bidang-bidang non-akademik mendapatkan tempat yang seimbang dengan bidang akademik sehingga mereka mampu dengan bebas mengembangkan bakat-bakat yang dimilikinya.

Begitulah gambaran sederhana dari aktifitas anak-anak di sekolah ini. sekolah yang mendapatkan julukan sebagai green school ini memiliki aktifitas yang cukup beragam, tidak hanya bagi siswa namun juga bagi guru. Pengembangan diri bagi siswa meliputi kegiatan akademik dan non akademik. Kegiatan akademik selain proses belajar mengajar di kelas, terdapat pula proses praktik lapangan seperti menanam, merawat sayur dan bunga, berbagai macam bentuk praktik pertanian, serta penelitian di laboratorium IPA, bahasa, dan komputer. Di bidang non akademik, setiap sore hari menjelang SMP Negeri 2 Banjarnegara akan dipenuhi dengan berbagai macam aktifitas anak-anak. Mulai dari karate, pecak silat, musik, jurnalistik, basket, badminton, PMR, drum band, dan juga voli. Sedangkan bagi Bapak-Ibu guru di SMP ini mereka juga dituntut untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat atau pun spesialisasinya, maka tak jarang selain mereka aktif mengajar di kelas kita akan bisa menjumpainya di pekarangan-pekarangan sekolah tengah berkebun merawat berbagai macam tanaman, atau yang lain mungkin tengah membuat eksperimen dengan berbagai metode mengajar yang tepat bagi siswa, atau yang lain mengembangkan bidang tulis menulis, atau pun penelitian.

Itulah aktivitas di sekolahnya para Baradek dan Barata ini. sekolah dengan segala kelebihan dan kekurangannya, yang tak mau menyerah dengan apa yang sudah dimiliki namun senantiasa berusaha untuk berinovasi untuk pendidikan yang lebih baik…

Partisipasi Esphero dalam Launching Arboretum Bambu Nasional

21 April 2015 tepat saat peringatan hari Kartini, 16 siswa pasukan merah dari esphero bersiap untuk menghadiri Launching Arboretum Bambu Nasional dan sekaligus berpartisipasi dalam penanaman bersama berbagai  macam jenis pohon bambu  di area hijau waduk mrican. Disampaikan oleh Wakil Bupati Banjarnegara sekaligus Ketua Kongres Sungai Indonesia 2015 Bapak Hadi Supeno dalam launching arboretum bambu nasional mengatakan bahwa kegiatan penanaman bambu ini merupakan pra-acara diadakannya kongres sungai Indonesia yang  akan diadakan pada tanggi 21-26 Agustus 2015 di Banjarnegara sebagai salah satu rangkaian kegiatan festival Serayu 2015, dan diikuti oleh seluruh pemangku sungai di seluruh Indonesia. Sedangkan Arboretum bambu sendiri, berarti penanaman berbagai macam jenis bambu di wilayah yang disediakan atau arboretum (taman).  Arboretum ini berukuran 10 hektar yang berada di lingkungan hijau waduk mrica. Penyediaan lahan 10 hektar merupakan lahan hibah dari PT. Indonesia Power selaku pengelola area waduk mrica.  Penanaman di lingkungan waduk mrica berguna untuk kembali memproduktifkan produksi air tanah yang seperti kita ketahui pohon bambu merupakan salah satu jenis tanaman yang memproduksi air tanah paling banyak.

Dalam launching arboretum bambu nasional Hadi Supeno menambahkan kegiatan ini diikuti oleh seluruh instansi pemerintah di kabupaten Banjarnegara, LSM, dinas perhutani, Pecinta Alam, karang taruna, siswa-siswa dari berbagai sekolah di Banjarnegara, termasuk siswa-siswi SMP Negeri 2 Banjarnegara, penggiat seniman Banjarnegara, dan tamu-tamu undangan dari luar Banjarnegara.  Kegiatan ini mampu terlaksana dengan semangat gotong royong dan kerjasama dari berbagai pihak.harapan dengan terlaksananya penanaman bersama arboretum bambu ini adalah menjadikan Banjarnegara yang semakin hijau dalam upaya membangun kabupaten Banjarnegara menjadi kabupaten konservasi. Sehingga meminimalisir adanya bencana tanah longsor, banjir, dan waduk mrica bertahan lebih lama sehingga dapat dinikmati oleh anak-cucu kita kedepannya. Tindak lanjut dengan suksesnya kegiatan penanaman arboretum bambu ini adalah penghijauan  diseluruh kabupaten Banjarnegara, keterlibatan seluruh warga Banjarnegara untuk sadar lingkungan dan menanam tanaman produksi, serta bersihnya sungai-sungai di Banjarnegara.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Banjarnegara menambahkan dengan terselenggara pencangan arboretum bambu nasional tahun 2015 ini, berbagai jenis bambu asli Indonesia dapat tertanam di area arboretum ini diantaranya adalah jenis bambu apus, bambu gendani, bambu wuluh, bambu petung, bambu tutul, bambu tali, bambu kuning, dan lain-lain. Pada kegiatan kali ini ditanam 11 jenis bambu asli jawa dengan jumlah 1.500 batang, selain itu akan ditanam pula 17.000 batang pohon aren yang tersebar di 70 desa yang berada di tepi sungai Serayu, sungai Pekacangan, sungai Tulis, sungai Mrau, sungai Sapi, dan sungai-sungai yang ada di kabupaten Banjarnegara. Harapan dari terlaksananya serangkaian acara arboretum bambu ini ada tiga, yang pertama adalah ingin melestarikan jenis-jenis bambu di Indonesia agar tidak punah, sebagi sarana pendidikan bagi anak-anak akan berbagai jenis bambu yang ada, ketiga ketika arboretum bambu ini terlestarikan maka dapat dimanfaatkan sebagai sumber plasmanutfah, sumber gen, dapat diambil sebagai objek penelitian untuk dapat dikembangkan di masa yang akan datang.

Partisipasi siswa-siswi esphero kali ini memberikan banyak ilmu, dan kebermanfaatan untuk dapat di praktikan kembali di lingkungan esphero sendiri. Hari ini siswa-siswi esphero belajar tidak hanya berkotor-kotor ria menanam bambu, melainkan menadapatkan ilmu bagaimana bercocok tanam yang baik, dan mengenal berbagai macam jenis bambu di Indonesia, di jawa pada umumnya. Selain hal tersebut, siswa-siswi esphero juga belajar untuk bersosialisasi dengan berbagai macam kalangan dan siswa-siswi sekolah lain. (Al Khansa)