Biopori, Lubang Hitam Penyelamat Bumi

Isu yang bermanfaat yang harus terus disampaikan kepada masyarakat adalah berhubungan dengan Lubang Resapan Biopori (LRB). Kondisi bumi yang kian memprihatinkan karena resapan dan buruknya drainase kota membuat banyak pihak khawatir. Belum lagi masalah produksi sampah yang terus meniningkat. Maka tak heran jika banjir dan tanah longsor menjadi ancaman yang nyata.

Lubang Resapan Biopori (LRB) merupakan upaya untuk menanggulangi hal-hal tersebut di atas. Dengan kata lain, teknologi tepat guna ini berfungsi sebagai sumur resapan. Tidak hanya di pekarangan rumah, lubang ini dapat dibuat dimana saja. Termasuk dalam hal ini di taman sekolah. Lubang Resapan Biopori telah ada di SMP Negeri 2 Banjarnegara kurang lebih selama 2 tahun berjalan. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran lingkungan dan pentingnya menjaga kelestarian air dan tanaman.

Terhitung di SMP Negeri 2 Banjarnegara dapat ditemukan 6 lubang resapan biopori yang telah beroperasi. Meski pun ketika hujan yang cukup besar terjadi, keenam lubang resapan tersebut belum dapat berfungsi maksimal karena besarnya volume air hujan yang mengguyur Banjarnegara belakangan ini, namun hal ini cukup mengurangi efek negatif dari berlebihannya air hujan yang jatuh ke tanah. Terbukti di area hijau dan sekitar lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara ketika hujan melanda genangan-genangan air tidak begitu banyak, kontur tanah di lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara juga cenderung relatif lebih lembab dibandingkan daerah lain, karena cadangan resapan air tanah yang berasal dari hujan masuk dan meresap dengan baik ke dalam tanah. Maka tidak mengherankan jika lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara terlihat sejuk dan hijau meski pada musim kemarau.

Kemudian, bagaimana cara membuat LRB ini? Dengan mudah setiap orang mampu membuat Lubang Resapan Biopori dengan manual. Caranya, lubangi tanah pekarangan sedalam 100 sentimeter dan diameter 10 sampai dengan 30 sentimeter. Jika permukaan tanahnya dangkal, atur agar lubang biopori  tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah.  Selanjutnya, isi lubang tersebut dengan sampah organik—misalnya sisa makanan, daun-daunan, atau sisa sayur. Dengan begitu cacing tanah akan hidup dalam lubang tersebut. Nantinya cacing inilah yang akan membentuk pori-pori tanah sebagai media resapan air, dalam hal ini air hujan. Rongga tanah ini akan mempercepat resapan air ke dalam tanah.

Di atas lubang ini, tambahkan lingkaran beton berukuran kecil, atau dapat juga menggunakan pipa PVC dengan ukuran cukup besar beserta tutup pipa yang memiliki lubang-lubang udara, selain itu dapat juga menggunakan yang serupa dengan con block segi enam. Kemudian, untuk permukaan paling atas, pasanglah teralis, atau tutup pipa besar berlubang tadi. Alat terakhir berfungsi sebagai saringan jika hujan turun  membawa sampah dan menghalangi meresapnya air ke dalam tanah.

Terbukti bukan, bahwa lubang resapan ini mudah dibuat dan tidak membutuhkan biaya besar? Apalagi dari tindakan sederhana ini kita bisa mendapatkan manfaat yang begitu besar—diantaranya, efektif mengurangi genangan air di pekarangan rumah/sekolah/taman.   Harapannya kedepan Lubang Resapan Biopori di lingkungan SMP Negeri 2 Banjarnegara ini dapat ditambah sekaligus sebagai sarana sosialisasi betapa pentingnya menjaga kelestarian alam dari hal terkecil berupa Lubang Resapan Biopori, si lubang penyelamat Bumi. (Al Khansa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *